Press Release

U.S. Gifts Sulawesi Farmers with Training to Boost Cocoa Production

Cocoa farmers in Sulawesi will soon enjoy higher yields and produce more premium cocoa for sale to the United States’ chocolate industry, thanks to a new farmer training program announced by the United States Agency for International Development (USAID) today.

The Valentine’s Day event was held by the USAID Agribusiness Market and Support Activity (AMARTA), in honor of its new Corporate Responsibility Program for Productivity and Quality Training of Small-holder Cocoa Farmers in West, South and Southeast Sulawesi.

The AMARTA activity is based on an agreement facilitated by USAID, between Blommer Chocolate Co. – the largest U.S. manufacturer of chocolate – and PT Olam Indonesia, a primary supplier to Blommer.  Under the agreement, PT Olam will support the training, which promises to improve cocoa productivity and quality by about 30 percent, enabling some 20,000 farmers to increase production by 35,000 metric tons a year. Bommer, meanwhile, has agreed to purchase the premium quality beans at higher-than-market value. The Sulawesi farmers could find their crop fetching as much as U.S. $52 million over a three year period.

However, to gain this access to more American chocolate lovers, the Sulawesi farmers must overcome a far less benign consumer of their cocoa beans: the Cocoa Pod Borer. This moth-like pest lays its larvae in the pod of the cocoa plant, destroying the cocoa bean seeds. The borer reduces yields by as much as 60 percent and leaves the farmer with poor quality cocoa beans – reducing income and threatening the position of Sulawesi as a major producer and exporter of cocoa to the world. Indonesia is the world’s third largest producer of cocoa, but recent research indicates the island’s cocoa farmers lost about U.S. $127 million last year to the ravages of the cocoa pest.

The AMARTA training program will teach new pest control technologies and best management practices to mitigate the impact of the Cocoa Pod Borer while improving farm productivity with better soil nutrition, sanitation, and planting material.

The United States is an important trading partner within the Indonesia cocoa industry, importing 136,000 metric tons of cocoa in 2005.  U.S. chocolate manufacturers are the largest international buyers of processed cocoa products from Sulawesi, purchasing about 40 percent of the island’s cocoa butter exports.


A.S. Menghadiahi Petani Sulawesi dengan Pelatihan untuk Meningkatkan Produksi Coklat

Berkat program pelatihan baru bagi petani yang dicanangkan oleh Badan Pembanguan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada hari ini, petani coklat di Sulawesi akan segera menikmati hasil panen yang lebih tinggi dan menghasilkan biji coklat yang lebih unggul untuk dijual ke industri coklat di Amerika Serikat. 

Kegiatan Hari Valentine ini diselenggarakan oleh program USAID bernama Agribusiness Market and Support Activity (AMARTA), dalam rangka menghormati Program Tanggung Jawab Perusahaan untuk Pelatihan Produktivitas dan Kualitas Petani Coklat Berskala Kecil di Sulawesi Barat, Selatan dan Tenggara yang baru dicanangkan.

Kegiatan AMARTA dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang difasilitasi oleh USAID, antara Blommer Chocolate Co. – pabrik coklat terbesar di A.S. – dan PT Olam Indonesia, pemasok utama ke Blommer. Dalam perjanjian tersebut,  PT Olam akan mendukung pelatihan, yang akan meningkatkan produktivitas dan kualitas biji coklat hingga 30 persen, yang memungkinkan sekitar 20.000 petani untuk meningkatkan produksi mereka hingga 35.000 ton metrik per tahun.  Sedangkan  Bommer sepakat untuk membeli biji coklat berkualitas unggul dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar. Petani Sulawesi akan memperoleh harga yang menarik untuk tanaman mereka sebesar 52 juta dolar AS selama kurun waktu tiga tahun.

Namun, untuk memperoleh akses ke lebih banyak penggemar coklat Amerika, petani Sulawesi harus mengatasi konsumen biji coklat yang jauh lebih buas: Penggerek Buah Coklat. Hama yang bentuknya seperti ngengat ini meletakkan larvanya di kulit pohon coklat, dan akibatnya menghancurkan benih biji coklat. Serangga ini mengurangi hasil panen sampai 60 persen dan menyisakan biji coklat berkualitas rendah bagi para petani – mengurangi pendapatan dan mengancam posisi Sulawesi sebagai produsen dan eksportir coklat utama di dunia. Indonesia adalah produsen coklat terbesar ketiga di dunia, namun penelitian yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa petani coklat di Sulawesi tahun lalu menderita kerugian sebesar 127 juta dolar AS akibat serangan hama coklat ini.

Program pelatihan AMARTA akan mengajarkan teknologi pengendalian hama yang baru serta praktik-praktik manajemen terbaik untuk mengurangi dampak Penggerek Buah Coklat sembari meningkatkan produktivitas lahan dengan pemupukan, sanitasi, dan materi penanaman yang lebih baik.

Amerika Serikat adalah mitra dagang penting dalam industri coklat Indonesia, mengimpor 136.000 ton metrik coklat pada 2005. Pabrik-pabrik coklat A.S. adalah pembeli internasional terbesar untuk produk coklat dari Sulawesi, membeli sekitar 40 persen dari ekspor mentega coklat Sulawesi.

Learn more: Economic Growth | About this activity



Related stories

Print this pageEmail this page

Last updated July 25, 2008

Viewers: Word | Adobe (PDF)

Privacy Statement www.usaid.gov

USAID | Indonesia
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 3-5 | Jakarta, Indonesia 10110
Tel +62 (21) 3435-9000
jakarta-info@usaid.gov